Kenyamanan kerja masih jadi prioritas pertama gw. Gaji kecil bisa terbayar dengan hati yang tenang. Gregetan kalau lihat ada hal-hal yang gak masuk akal secara profesional atau tanpa logika terjadi di depan gw. Apalagi kalau yang dihadapi adalah kepercayaan terhadap gosip. Well, not because I have the most impressive attitude, but please, you may not and can not trust gossip, especially when you are a leader. Not only the CEO who has to avoid such thing, you and I also a leader of ourselves.
Jadi, ketika subjektivitas muncul, apalagi karena gosip (dan tidak dikonfirmasikan ke orang yang diomongin) saat itulah the most convinient workplace become hell.
So, is it clear enough? It's not always about the salary, though salary is one of the way to know how much the company appreciate your skills.
Well, then... I quit.
This is only a way to guide me find out who I am, how I feel and how things are connected to me.
Showing posts with label Journey. Show all posts
Showing posts with label Journey. Show all posts
Monday, July 28, 2008
Wednesday, March 12, 2008
Jalan Setapak Ini di Mana Ujungnya?

Kaki kecilku sudah melangkah sampai di sini, di jalan setapak ini, yang tepiannya padang rumput menghijau sejauh mata memandang. Sayup sampai terdengar debur ombak di pantai. Kemudian di tepi bukit itu, nun jauh di kananku kadang langit kelabu menyala karena petir berkelindan meski gunturnya tak kunjung sampai kepadaku. Hanya saja terkadang aku seperti merasai bagaimana bergetarnya bumi ketika disentuh Sang Petir: geram, menderu dan seperti suara yang begitu dalam meremang di diriku.
Kembali di jalan setapak ini. Ketika langkahku seperti harus memilih antara berbagai cabang yang entah di mana ujungnya. Di cabang yang samar - yang sekejap akan membawaku berkelana ke dunia yang sama sekali berbeda tanpa sadar. Tapi aku mengharapkan dunia yang berbeda. Aku mengharapkan ada di tempat yang benar-benar memanggilku ke sana. Karena tidak di sini aku berhenti.
Akankah tidak hanya satu dari pilihan ini yang akan menyesatkan? Tapi menyesal karena urung memutuskan akan lebih hina dari menyesal karena telah membuat keputusan. Hatiku pasti lebih kuat untuk memutuskan, misalnya untuk menyukai atau membenci sesuatu di sini, atau untuk pergi atau tinggal di sini. Dan entah aku suka atau benci, aku memilih pergi.
Terimakasih. Sampai di sini sudah cukup.
Wednesday, December 26, 2007
Kaku Kelu
Dalam beberapa menit di hari-hariku sekilas selalu muncul kegamangan. Lalu berubah jadi pilu yang meresap ke hati. Dalam keheninganku yang ramai, dalam mata yang nanar menatap kekosongan. Kebahagiaan yang cengkerama di seberang, menari tanpa belas kasih di mataku. Aku mungkin hanya berkhayal. Aku mungkin hanya mendendam. Tapi apalah artinya karena aku yang kaku kelu memang tak padan. Semestinya pun turut menari. Dan semoga gilang gemilang menaungi.
Tuesday, September 4, 2007
Maybe Someday
Ada saatnya kita tidak bisa berhenti melakukan sesuatu yang kita sukai. Age of Empire*, chatting, browsing, kerja, tidur, dan lain-lain. Saat berhenti, rasanya seperti dirampas. Suka atau tidak. Sadar atau tidak.
Kita memang harus tahu kapan harus berhenti. Tentang apapun itu. (Bahkan hidup pun punya agenda untuk berhenti) Tapi, piye? Bagaimana caranya? Nah, itu dia masalah gw!
Jadilah malam ini gw tergugu di depan layar komputer di warnet berpintu geser di muka jalan sawo a.k.a kober, seberang kampus UI. Dengan badan lelah tapi segar setelah aerobic ria di kantor. Juga dengan hati yang masygul antara kangen kampus dan lega sudah lulus***
Iya, gw gak bisa berhenti. Rasanya kepala gw penuh sesak kalau gw mencoba menyangkalnya. Meski gw berusaha meyakinkan diri gw berkali-kali. Things wont be better if i just let it be.. Harus ada saatnya ketika lampu yang terang benderang dengan nyalanya yang tegas menghentikan erosi ini.
Someday. Maybe someday i'll be glad with everything that had happenned to me. Maybe someday there'll be the end of the mysteries. Maybe someday****.
*Game perang dengan skenario njelimet yang menantang keahlian politik dan militer. Hueh? Repot amat!
** bagaimana (bahasa jawa)
*** lulus gw, men!
**** ....... (isi sendiri ya)
Kita memang harus tahu kapan harus berhenti. Tentang apapun itu. (Bahkan hidup pun punya agenda untuk berhenti) Tapi, piye? Bagaimana caranya? Nah, itu dia masalah gw!
Jadilah malam ini gw tergugu di depan layar komputer di warnet berpintu geser di muka jalan sawo a.k.a kober, seberang kampus UI. Dengan badan lelah tapi segar setelah aerobic ria di kantor. Juga dengan hati yang masygul antara kangen kampus dan lega sudah lulus***
Iya, gw gak bisa berhenti. Rasanya kepala gw penuh sesak kalau gw mencoba menyangkalnya. Meski gw berusaha meyakinkan diri gw berkali-kali. Things wont be better if i just let it be.. Harus ada saatnya ketika lampu yang terang benderang dengan nyalanya yang tegas menghentikan erosi ini.
Someday. Maybe someday i'll be glad with everything that had happenned to me. Maybe someday there'll be the end of the mysteries. Maybe someday****.
*Game perang dengan skenario njelimet yang menantang keahlian politik dan militer. Hueh? Repot amat!
** bagaimana (bahasa jawa)
*** lulus gw, men!
**** ....... (isi sendiri ya)
Friday, August 24, 2007
Coffee Morning
Manusia, sebagai manusia, harus diperlakukan dengan sama. Sebagai manusia. Stop sampai di situ.
Sementara dalam hubungan sosial dan interpersonal, manusia adalah mahkluk yang diperlakukan sesuai dengan atribut yang dimilikinya. Misal, antara memperlakukan orangtua sendiri dengan tetangga sebelah rumah tentu ada bedanya. Atau, cara bersikap kepada atasan, dengan rekan kerja yang sejajar, pasti ada bedanya.
Kita tidak bisa menafikan bahwa memang seperti inilah kita bersikap. Manusia dilihat dari atributnya yang mempengaruhi cara-cara kita memperlakukan seseorang. Siswa yang pandai pantas mendapat pujian. Mereka yang mampu mencapai kualifikasi tertentu pantas untuk lolos seleksi rekrutmen karyawan. Bahkan mereka yang kita cintai pantas untuk diistimewakan.
Begitupun ketika kita memperlakukan mereka yang kita anggap berilmu. Yaitu, mereka yang mengamalkan apa yang mereka ketahui dan pelajari. Mereka akan dijadikan guru, mentor, atau setidaknya teman bertukar pikiran yang dapat diandalkan. Apakah dapat diandalkan dapat secara setara kita terapkan pada semua orang? Sudah jelas tidak bisa. Pukul rata seperti itu dapat membawa kesetaraan menyebabkan ketidakadilan, bukan?
Keadilan adalah memperlakukan seseorang sesuai dengan kapasitas dan potensinya. Adakalanya kita terpeleset saat menggugat tentang kesetaraan, dan alpa bahwa adakalanya keadilan tidak selalu tumbuh dari kesetaraan.
---------
Seru. Kesan itu yang saya dapat ketika coffee morning diisi dengan sesi sharing. Topiknya adalah 'perbedaan perlakuan terhadap mereka yang tahu dengan mereka yang tidak tahu'. Masih banyak hal yang dapat dikaji sebenarnya. Tapi biarlah itu saya sisakan untuk anda.
Are we still equal in any ways?
Sementara dalam hubungan sosial dan interpersonal, manusia adalah mahkluk yang diperlakukan sesuai dengan atribut yang dimilikinya. Misal, antara memperlakukan orangtua sendiri dengan tetangga sebelah rumah tentu ada bedanya. Atau, cara bersikap kepada atasan, dengan rekan kerja yang sejajar, pasti ada bedanya.
Kita tidak bisa menafikan bahwa memang seperti inilah kita bersikap. Manusia dilihat dari atributnya yang mempengaruhi cara-cara kita memperlakukan seseorang. Siswa yang pandai pantas mendapat pujian. Mereka yang mampu mencapai kualifikasi tertentu pantas untuk lolos seleksi rekrutmen karyawan. Bahkan mereka yang kita cintai pantas untuk diistimewakan.
Begitupun ketika kita memperlakukan mereka yang kita anggap berilmu. Yaitu, mereka yang mengamalkan apa yang mereka ketahui dan pelajari. Mereka akan dijadikan guru, mentor, atau setidaknya teman bertukar pikiran yang dapat diandalkan. Apakah dapat diandalkan dapat secara setara kita terapkan pada semua orang? Sudah jelas tidak bisa. Pukul rata seperti itu dapat membawa kesetaraan menyebabkan ketidakadilan, bukan?
Keadilan adalah memperlakukan seseorang sesuai dengan kapasitas dan potensinya. Adakalanya kita terpeleset saat menggugat tentang kesetaraan, dan alpa bahwa adakalanya keadilan tidak selalu tumbuh dari kesetaraan.
---------
Seru. Kesan itu yang saya dapat ketika coffee morning diisi dengan sesi sharing. Topiknya adalah 'perbedaan perlakuan terhadap mereka yang tahu dengan mereka yang tidak tahu'. Masih banyak hal yang dapat dikaji sebenarnya. Tapi biarlah itu saya sisakan untuk anda.
Are we still equal in any ways?
Thursday, May 17, 2007
Cerita Masa Depan
Terkadang, di satu saat, mungkin aku akan merenung ketika menatap ke luar jendela. Bukan untuk melihat menantuku yang asyik bermain-main dengan cucuku di halaman. Juga bukan untuk melambai pada tetangga yang lewat. Tidak pula untuk beranjak dari kursi malasku dan membukakan pintu untuk kurir jasa pengiriman. Aku cuma sekedar menatap keluar sementara benakku melayang-layang tak tentu.
Pada satu kesempatan mungkin aku akan teringat pada suamiku. Gelak tawa dan gerak-geriknya samar-samar terbayang. Dan aku mungkin akan sedikit menangis karena rindu. Tenggorokanku mungkin tercekat, dan lamunanku akan berhenti ketika aku mulai mencari-cari mug coklat tua yang lupa kuletakkan di mana sebelumnya.
Di lain kesempatan mungkin aku akan ingat dirimu. Juga bertanya-tanya bagaimana kabarmu. Aku akan ingat bagaimana rupa kita dulu. Meski samar aku akan ingat beberapa hal yang kau katakan padaku. Mungkin sekali aku juga akan ingat bagaimana rupa keluargamu -akhirnya kamu menikah dan punya anak juga- ketika terakhir bersua lama sebelum hari aku melamun itu.
Pada saat-saat seperti itu aku akan duduk diam-diam dan tenang. Mataku berkaca-kaca, tapi siapa yang mengira kalau aku menangis? Toh memang begitulah mata orang tua, sudah berlapis-lapis selaputnya. Menantuku mungkin akan sadar kalau aku sedang melamun, lalu mengajakku bercakap-cakap. Anak lelakiku terkadang muncul membawakan secangkir teh madu dan berlutut memeriksa tungkai kakiku yang linu. Cucuku akan berdiri di depanku dan tiba-tiba saja bernyanyi dengan begitu lucu.
Kalau sudah begitu aku akan sangat bersyukur. Ternyata meski sudah merayap senja tuaku, aku masih bisa hidup dan mengenang begitu banyak peristiwa. Dan, hei, itu anak perempuanku datang bersama anak tertuanya. Sudah waktunya untuk berkemas-kemas dan tinggal beberapa waktu dengan anak perempuanku itu. Di sana lebih sepi memang, karena tidak ada anak sekecil cucu dari anak lelakiku. Tapi aku bisa berjalan-jalan seputar perumahan dan bertemu beberapa kawan yang setua aku.
Hm, hidup itu indah bukan?
Pada satu kesempatan mungkin aku akan teringat pada suamiku. Gelak tawa dan gerak-geriknya samar-samar terbayang. Dan aku mungkin akan sedikit menangis karena rindu. Tenggorokanku mungkin tercekat, dan lamunanku akan berhenti ketika aku mulai mencari-cari mug coklat tua yang lupa kuletakkan di mana sebelumnya.
Di lain kesempatan mungkin aku akan ingat dirimu. Juga bertanya-tanya bagaimana kabarmu. Aku akan ingat bagaimana rupa kita dulu. Meski samar aku akan ingat beberapa hal yang kau katakan padaku. Mungkin sekali aku juga akan ingat bagaimana rupa keluargamu -akhirnya kamu menikah dan punya anak juga- ketika terakhir bersua lama sebelum hari aku melamun itu.
Pada saat-saat seperti itu aku akan duduk diam-diam dan tenang. Mataku berkaca-kaca, tapi siapa yang mengira kalau aku menangis? Toh memang begitulah mata orang tua, sudah berlapis-lapis selaputnya. Menantuku mungkin akan sadar kalau aku sedang melamun, lalu mengajakku bercakap-cakap. Anak lelakiku terkadang muncul membawakan secangkir teh madu dan berlutut memeriksa tungkai kakiku yang linu. Cucuku akan berdiri di depanku dan tiba-tiba saja bernyanyi dengan begitu lucu.
Kalau sudah begitu aku akan sangat bersyukur. Ternyata meski sudah merayap senja tuaku, aku masih bisa hidup dan mengenang begitu banyak peristiwa. Dan, hei, itu anak perempuanku datang bersama anak tertuanya. Sudah waktunya untuk berkemas-kemas dan tinggal beberapa waktu dengan anak perempuanku itu. Di sana lebih sepi memang, karena tidak ada anak sekecil cucu dari anak lelakiku. Tapi aku bisa berjalan-jalan seputar perumahan dan bertemu beberapa kawan yang setua aku.
Hm, hidup itu indah bukan?
Friday, May 11, 2007
Menuju Pencerahan Ilahi
Pertama kali mengenakan jilbab saya segera merasa terbiasa. Segala sesuatu menjadi lebih mudah karena niat mengenakan jilbab berasal dari keinginan saya sendiri. Apalagi saya merasa semakin risih jika ada laki-laki yang menggoda saya, entah itu di perjalanan, di kampus, maupun di lingkungan perumahan. Saya merasa jauh lebih terlindung dan nyaman. Perlu penyesuaian, tapi tidak merasa terhambat dalam kegiatan sehari-hari.
Sebelum yakin mengenakan jilbab, beberapa teman semasa kuliah sempat begitu memaksa agar saya mengenakan jilbab. Tetapi tidak satupun dari desakan itu yang meluluhkan hati saya. Justru membuat saya semakin enggan menuruti ajakan mereka. Meskipun begitu, saya tidak mengalami masalah apapun dengan rekan-rekan tersebut, kecuali bosan menghadapi desakan mereka.
Lambat laun saya semakin terbiasa dengan nuansa agamis di lingkungan kampus. Teman-teman yang mengenakan jilbab semakin banyak. Wawasan saya pun semakin diwarnai cerita teman-teman mengenai alasan dan perjalanan mereka menuju hidayah. Sampai kemudian ada seorang mahasiswi baru yang membuat saya terkesan. Kebetulan ia memiliki latar belakang keluarga yang cukup berada namun tidak sungkan untuk tampil bersahaja dengan jilbab. Dan ia membuat saya menyadari bahwa dengan mengenakan jilbab seseorang masih bisa terlihat cantik. Akhirnya setelah kakak saya menikah, di tahun 199X, mulailah saya mengenakan jilbab.
Berbicara tentang keluarga, saya lahir di keluarga dengan latar belakang agama yang tidak fanatik. Orangtua saya tidak pernah memaksa kami beribadah. Alhamdulillah, meski cuma diingatkan, saya dan kakak-adik di rumah cukup termotivasi untuk beribadah. Justru sikap keluarga yang lebih longgar membuat kami lebih sadar akan kewajiban beribadah. Rasanya tidak enak kalau sikap yang membebaskan itu kami balas dengan ketidakpatuhan.
Pilihan saya untuk mengenakan jilbab didukung oleh keluarga. Pilihan ini juga tidak memberikan kerugian apa pun pada saya. Sebelumnya memang pernah terpikir bahwa mengenakan jilbab akan menghambat saya dalam berkegiatan. Tapi ternyata kegiatan olahraga luar ruang -termasuk bermain basket dan mendaki gunung- masih bisa saya lakoni. Hobi saya berganti model rambut pun masih tetap berjalan. Bedanya, sekarang tidak ada laki-laki bukan muhrim yang bisa melihat.
Kini di lingkungan saya bekerja, saya semakin menjiwai nilai-nilai keagamaan. Semestinya saya bersyukur dapat bekerja di lingkungan SMA Lazuardi. Sistem yang diterapkan telah berkembang menjadi budaya yang mampu ‘memaksa’ orang-orang di dalamnya untuk menjadi ‘orang baik’. Memaksa di sini bukan berarti mengekang kebebasan seseorang, namun cenderung mengingatkan setiap individu dengan rambu-rambu yang tidak kasat mata. Dan rambu-rambu ini mampu mengikis sifat-sifat negatif seseorang sehingga kesadaran terhadap hukum agama tumbuh dengan sendirinya.
-Pengalaman teman-
Cheers!
Subscribe to:
Posts (Atom)